Di Antara Puing Kerajaan Melayu

Melihat Dari Dekat Pesona Bahari Pulau Rinti dan Pulau Penyengat

Tempat Puing Kerajaan Melayu Tersisa

oleh. fdawidodo

Kepulauan Riau, dengan ibukota provinsi Tanjung Pinang yang terletak di Pulau Bintan, memiliki berbagai aktivitas manusia baik dari sektor industri (Pulau Batam) hingga industri pariwisata dan merupakan suatu daerah yang memiliki keragaman adat dan budaya yang cukup tinggi. Suku Melayu, Batak, Jawa, Sunda, dan Cina telah memberikan nuansa yang unik di provinsi ini. Meskipun suku yang memiliki perbedaan dan kebiasaan hidup sehari-hari, mereka dapat hidup berdampingan dengan satu sama lain, baik dari segi pekerjaan yang dilakukan atau kegiatan sehari-hari demi upaya memajukan tempat tinggal mereka sekarang. Selain itu juga, ternyata di provinsi yang cukup strategis karena terletak di antara 3 negara (Malaysia, Singapura, dan Vietnam) ini, terdapat berbagai situs tentang kerajaan Melayu masa lalu yang dikenal ke seluruh pelosok nusantara (Pulau Penyengat).  Sisa-sisa peninggalan ini ternyata masih melekat erat di bumi yang dikenal sebagai tanah bauksit ini.

Bintan

Sebuah perjalanan panjang dan cukup melelahkan ketika menuju ke Pulau Bintan.  Dari Jakarta, landing di Bandar Udara Hang Nadim (Batam), terus harus naik taksi ke Pelabuhan Telaga Punggur sekitar 30 menit untuk dapat tiket kapal dan harus menempuh perjalanan sekitar 3 jam ke Pulau Bintan (Tanjung Pinang). Tapi gak apa-apa, yang penting kami tiba di lokasi dan langsung melakukan aktivitas yang telah kami rencanakan untuk mengunjungi provinsi yang cukup unik dan kaya akan bahan tambangnya ini.

BiniBinj

Bina

Salah satu fokus kegiatan kami adalah melakukan penyelaman di salah satu pulau di Provinsi Kepulauan Riau.  Pulau ini dikenal dengan Pulau Rinti.  Pulau ini memiliki keanekaragaman karang cukup tinggi, ditambah berbagai spesies ikan yang cukup berlimpah, telah memberikan nuansa berarti di perairan Pulau Rinti.  Jenis karang yang dapat ditemukan, seperti Acropora divaricata, A. formosa, A. donei, dan jenis-jenis Acropora mewakili keragaman spesies pertumbuhan karang dengan tipe branching (bercabang).  Selain karang bercabang, juga dapat ditemukan karang massive (karang padat atau karang otak) seperti jenis Favia sp, Goniastrea sp, Porites sp, Favites sp, dan jenis-jenis karang masif lainnya.

BinbBincBind

Di antara celah terumbu, dapat ditemukan juga kehidupan jenis karang lain seperti karang sub-masif dari jenis Pocillopora verrucosa, Turbinaria sp, dan kerabat lainnya. Mereka tumbuh di antara jenis jamur karang (Mushroom Coral) dari jenis Fungia sp dan Herpolitha sp yang memiliki lengan panjang (tentakel) untuk menangkap makanan. Dan tak kalah unik, karang daun karang (foliose) spesies Echinopora sp, Montipora capricornis, dan jenis-jenis foliose membuat hidup lebih bermakna. Jenis karang di atas lebih bermakna lagi dengan ditemukannya jenis seperti ikan dan biota laut lainnya. Ikan yang dapat ditemukan, seperti ikan burung beo, damselfis, angelfish, dan biota laut seperti Diadema sp (bulu babi), Echinometra bella (sea Lily), dan berbagai jenis spons penggemar dan laut.

BinfBingOLYMPUS DIGITAL CAMERAOLYMPUS DIGITAL CAMERA

Adalah Pulau Penyengat, yang dikenal dengan pulau bersejarah (dalam sejarah Melayu), terletak di barat kota Tanjung Pinang (Pulau Bintan). Di pulau, yang memiliki luas 240 ha ini adalah tempat di mana sejarah Kerajaan Melayu  telah berakhir.   Pulau yang merupakan daerah tujuan wisata sejarah telah dikunjungi oleh wisatawan yang mayoritas berasal dari negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Bin1Bink

Di pulau ini berdiri Masjid Raya yang merupakan saksi berkembangnya Kerajaan Islam terbesar pada masa nya.  Masjid yang konon terbuat dari batu dan direkatkan dengan putih telur ini masih terlihat kokoh dan tak termakan oleh waktu.

Binl

Selain mengunjungi Masjid Raya di Pulau Penyengat, tak lupa kami berkunjung di makam Kerajaan Melayu.  Di makan ini terbaring sosok perempuan hebat yang merupakan raja terakhir dari Kerajaan Melayu, Raja Hamidah (Engku Putri).  Selain itu juga, di dalam kompleks makam, ditemukan log-log batu yang bertuliskan aksara dari suatu sajak kuno Gurindam 12.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Gurindam 12 adalah karya besar dari sosok Raja Ali Haji yang merupakan seorang Sastrawan Melayu Kuno.  Gurindam 12 adalah suatu refleksi cara hidup manusia pada hubungannya dengan Sang Pencipta (Allah), kehidupan bermasyarakat, dan bernegara. Karya besar ini berdampingan dengan karyanya yang lain besar seperti Al-Nafis Tuhfat (Hadiah Yang Berharga). Meskipun Raja Ali Haji telah menghilang dari bumi, namun antusiasmenya tetap hidup dalam karya-karyanya untuk mengungkapkan makna tersirat bahwa puing-puing reruntuhan kerajaan Melayu masih tinggal di pulau ini.

Bin6BinmBinnBin7

Inilah Gurindam Dua Belas

Karya Raja Ali Haji

Persimpanan yang indah-indah yaitulah ilmu yang memberi faedah

Aku hendak bertutur akan gurindam yang teratur

Gurindam Pasal yang Pertama

barang siapa tiada memegang agama
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama
barang siapa mengenal yang empat
maka yaitulah orang yang makrifat
barang siapa mengenal Allah
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah
barang siapa mengenal diri
maka telah mengenal akan tuhan yang bahri
barang siapa mengenal dunia
tahulah ia barang yang terperdaya
barang siapa mengenal akhirat
tahulah ia dunia mudharat

Gurindam Pasal yang Kedua

 barang siapa mengenal yang tersebut
tahulah ia makna takut
barang siapa meninggalkan sembahyang
seperti rumah tiada bertiang
barang siapa meninggalkan puasa
tidaklah mendapat dua termasa
barang siapa meninggalkan zakat
tiada hartanya beroleh berkat
barang siapa meninggalkan haji
tiadalah ia menyempurnakan janji

Gurindam Pasal yang Ketiga

apabila terpelihara mata
sedikitlah cita-cita
apabila terpelihara kuping
khabar yang jahat tiadalah damping
apabila terpelihara lidah
niscaya dapat daripadanya faedah
bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
daripada segala berat dan ringan
apabila perut terlalu penuh
keluarlah fi’il yang tiada senonoh
anggota tengah hendaklah ingat
di situlah banyak orang yang hilang semangat
hendaklah peliharakan kaki
daripada berjalan yang membawa rugi

Gurindam Pasal yang Keempat


hati itu kerajaan di dalam tubuh
jikalau zalim segala anggota pun rubuh
apabila dengki sudah bertanah
datang daripadanya beberapa anak panah
mengumpat dan memuji hendaklah pikir
di situlah banyak orang yang tergelincir
pekerjaan marah jangan dibela
nanti hilang akal di kepala
jika sedikit pun berbuat bohong
boleh diumpamakan mulutnya itu pekung
tanda orang yang amat celaka
aib dirinya tiada ia sangka
bakhil jangan diberi singgah
itulah perompak yang amat gagah
barang siapa yang sudah besar
janganlah kelakuannya membuat kasar
barang siapa perkataan kotor
mulutnya itu umpama ketor
di manatah tahu salah diri
jika tiada orang lain yang berperi
pekerjaan takbur jangan direpih
sebelum mati didapat juga sepih

Gurindam Pasal yang Kelima

jika hendak mengenal orang berbangsa
lihat kepada budi dan bahasa
jika hendak mengenal orang yang berbahagia
sangat memeliharakan yang sia-sia
jika hendak mengenal orang mulia
lihatlah kepada kelakuan dia
jika hendak mengenal orang yang berilmu
bertanya dan belajar tiadalah jemu
jika hendak mengenal orang yang berakal
di dalam dunia mengambil bekal
jika hendak mengenal orang yang baik perangai
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

Gurindam Pasal yang Keenam

cahari olehmu akan sahabat
yang boleh dijadikan obat
cahari olehmu akan guru
yang boleh tahukan tiap seteru
cahari olehmu akan isteri
yang boleh menyerahkan diri
cahari olehmu akan kawan
pilih segala orang yang setiawan
cahari olehmu akan abdi
yang ada baik sedikit budi

Gurindam Pasal yang Ketujuh

apabila banyak berkata-kata
di situlah jalan masuk dusta
apabila banyak berlebih-lebihan suka
itulah tanda hampirkan duka
apabila kita kurang siasat
itulah tanda pekerjaan hendak sesat
apabila anak tidak dilatih
jika besar bapanya letih
apabila banyak mencacat orang
itulah tanda dirinya kurang
apabila orang yang banyak tidur
sia-sia sahajalah umur
apabila mendengar akan khabar
menerimanya itu hendaklah sabar
apabila mendengar akan aduan
membicarakannya itu hendaklah cemburuan
apabila perkataan yang lemah lembut
lekaslah segala orang mengikut
apabila perkataan yang amat kasar
lekaslah orang sekalian gusar
apabila pekerjaan yang amat benar
tiada boleh orang berbuat honar

Gurindam Pasal yang Kedelapan

barang siapa khianat akan dirinya
apalagi kepada lainnya
kepada dirinya ia aniaya
orang itu jangan engkau percaya
lidah suka membenarkan dirinya
daripada yang lain dapat kesalahannya
daripada memuji diri hendaklah sabar
biar daripada orang datangnya khabar
orang yang suka menampakkan jasa
setengah daripada syirik mengaku kuasa
kejahatan diri sembunyikan
kebajikan diri diamkan
keaiban orang jangan dibuka
keaiban diri hendaklah sangka

Gurindam Pasal yang Kesembilan

tahu pekerjaan tak baik tapi dikerjakan
bukannya manusia ia itulah syaitan
kejahatan seorang perempuan tua
itulah iblis punya penggawa
kepada segala hamba-hamba raja
di situlah syaitan tempatnya manja
kebanyakan orang yang muda-muda
di situlah syaitan tempat bergoda
perkumpulan laki-laki dengan perempuan
di situlah syaitan punya jamuan
adapun orang tua yang hemat
syaitan tak suka membuat sahabat
jika orang muda kuat berguru
dengan syaitan jadi berseteru

Gurindam Pasal yang Kesepuluh

dengan bapa jangan durhaka
supaya Allah tidak murka
dengan ibu hendaklah hormat
supaya badan dapat selamat
dengan anak janganlah lalai
supaya boleh naik ke tengah balai
dengan isteri dan gundik janganlah alpa
supaya kemaluan jangan menerpa
dengan kawan hendaklah adil
supaya tangannya jadi kapil

Gurindam Pasal yang Kesebelas

hendaklah berjasa
kepada yang sebangsa
hendaklah jadi kepala
buang perangai yang cela
hendak memegang amanat
buanglah khianat
hendak marah
dahulukan hujjah
hendak dimalui
jangan memalui
hendak ramai
murahkan perangai

Gurindam Pasal yang Keduabelas

raja mufakat dengan menteri
seperti kebun berpagar duri
betul hati kepada raja
tanda jadi sebarang kerja
hukum adil atas rakyat
tanda raja beroleh inayat
kasihkan orang yang berilmu
tanda rahmat atas dirimu
hormat akan orang yang pandai
tanda mengenal kasa dan cindai
ingatkan dirinya mati
itulah asal berbuat bakti
akhirat itu terlalu nyata
kepada hati yang tidak buta

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pada suatu saat di Provinsi Kepulauan Riau…..

kredit foto : dokumen pribadi, Thomas AC, Frans ADC.

adalah sosok karya Raja Ali Haji

Between three musketeer!

Kehidupan Keramba Kawasan Pulau Condong Darat

Antara Pulau Sulah -  Condong Laut – Condong Darat

oleh. fdawidodo

Beberapa waktu lalu, bersama rekan dari Jakarta dan seorang konsultan beranjaklah kami dari kehingarbingaran kota Bandar Lampung menuju salah satu pulau kecil di Kabupaten Lampung Selatan, Pulau Condong Laut namanya.  Dengan menyeberang dari Desa Rangai dengan memakai speed boat agaknya tak membutuhkan waktu lama mendekati serakan pulau-pulau yang berada di daerah Katibung, Lampung Selatan ini (10 menit).  Pulau-pulau tersebut adalah Pulau Condong Laut, Pulau Condong Darat, dan Pulau Sulah (Pulau Bule). (Tulisan terkait http://fdwiagungwidodo.wordpress.com/2013/01/20/profil-teluk-lampung/ dan http://fdwiagungwidodo.wordpress.com/2013/01/17/lingkungan-pesisir-provinsi-lampung/)
CDCDb
Pulau Condong Darat yang merupakan sasaran utama kunjungan kami kali ini merupakan pulau tak berpenghuni.  Pulau yang memiliki luas sekitar 47 Ha ini bertopografi landai hingga dataran tinggi, sehingga sepintas jika terlihat dari jauh seperti bukit kecil yang menjulang di atas permukaan laut.  Walaupun tak berpenghuni, pulau ini merupakan salah satu tujuan wisata pulau yang ditawarkan dari pihak pengelola Taman Hiburan Rakyat Pasir Putih Provinsi Lampung.
CD1CD2
Tujuan kami ke kawasan Pulau Condong Darat ini adalah untuk mengetahui segala bentuk aktivitas yang berlangsung di pulau kecil, seperti aktivitas nelayan ataupun aktivitas lainnya.  Oleh karena Pulau Condong Laut tak berpenghuni, maka kami memilih pulau tetangga, yakni Pulau Condong Darat. Sebenarnya kami ingin juga ke Pulau Sulah (Baca : Pulau Bule), tapi karena pulau ini milik seseorang (TW) yang sangat terkenal di Negara Indonesia maka kami mengurungkan niat untuk menyambangi pulau yang telah dibangun villa asri dan dermaga sandar kapal pesiar ini. Hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit ke arah Barat Daya dari Pulau Condong, tibalah kami di Pulau Condong Darat.  Pulau yang memiliki luas lebih dari 25 Ha ini ternyata telah dihuni oleh para petani Keramba yang mengusahakan ikan Kerapu Bebek (Chromileptes altivelis) dan Kerapu Macan (Ephinephelus fuscogutattus) dalam keramba jaring apung (KJA).  Mungkin sekitar 500 m persegi luasan keramba yang dipunyai salah satu pengusaha kerapu ini.
CD3CD4
Selain ikan konsumsi tinggi (Kerapu), pengusaha keramba (Pak Harry – red) juga melakukan pembesaran terhadapa berbagai jenis ikan ekonomis lainnya, seperti Kakap Merah/Red Snapper (Lutjanus sp), Simba/Traveller (Gnathanodon speciosus), berbagai jenis parrot fish, ikan hias serperti Angel Fish (Heniochus sp), dan lain sebagainya.
CD5CD6
Dari pantauan kami, agaknya usaha budidaya ikan kerapu dalam keramba jaring apung di Pulau Condong Darat ini tidak luput dari persoalan utama yang dihadapi oleh banyak pengusaha keramba lainnya.  Seperti halnya menurut penuturan Pak Harry, “Tahun 2007 – 2008 merupakan masa kebangrutan kami, mas.  Karena pada saat itu, kami benar-benar tidak bisa panen akibat kematian massal yang terjadi pada jenis ikan kerapu dalam keramba.  Ini tidak hanya terjadi di daerah ini, tetapi di semua tempat di Indonesia bahkan di luar negeri pun merasakan imbas dari bencana hebat ini.  Kami sendiri tidak tahu persis penyebab dari bencana hebat itu.”
Setelah mendengar cerita Pak Harry yang cukup tragis, berdasarkan sedikit pengalaman yang pernah saya alami sebenarnya ada beragam faktor yang menyebabkan satu usaha budidaya kerapu menjadi tidak berhasil.  Selain karena faktor manusia (penggunaan potassium dan pengeboman disekitar areal keramba), faktor alam (gelombang dan arus besar), skill petani keramba (cara perawatan ikan dll), juga adanya faktor biologis seperti adanya parasit ataupun bakteri yang relatif sangat mudah sekali menjangkiti ikan dalam keramba.  Umumnya parasit yang menjadi momok bagi pengusaha ikan kerapu adalah parasit Diplectanum (monogenetik trematoda insang) dengan jenis Benedenia sp dan bakteri Vibrio sp.  Selain itu juga beberapa parasit (jamur) yang menyebabkan kulit berbecak putih (white spot) dan bahkan parasit viral (virus) pun turut menyebabkan si kerapu menjadi lemas dan akhirnya mati.  Kematian yang ditimbulkan oleh adanya parasit dan bakteri tersebut amatlah cepat karena pada umumnya mereka (jenis-jenis parasit) memiliki virulensi tinggi sehingga hanya membutuhkan waktu singkat untuk menyebabkan satu areal keramba akan kehilangan seluruh ikan budidayanya dalam hitungan jam hingga hari.Untuk mengatasi ataupun mengurangi dampak kematian massal yang mewabah, sebenarnya ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh seorang pengusaha salah satunya adalah melakukan treatment berupa penambahan multivitamin pada ikan kerapunya.  Selain itu juga, faktor lain seperti kebersihan dari jaring keramba cukup berperan penting dalam satu usaha mencegah terjadinya wabah penyakit.  Hal ini membutuhkan sedikit kerja keras dan keuletan dan pelaksanaan budidaya.
CD7CD8
Cukup lama kami berada di areal keramba Pulau Condong Darat ini.  Hingga saatnya setelah dirasakan cukup, kamipun berkemas untuk kembali lagi melanjutkan perjalanan kami yang masih cukup panjang.
kredit foto : dokumen pribadi

Traditional Gold Mining in Lombok Land

Kisah Pencari Emas di Sekotong – Lombok Barat

Oleh. fda widodo

Cerita ini terjadi 4 tahun yang lalu.

Lombar8OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sekotong merupakan salah satu kecamatan di wilayah kabupaten Lombok Barat.  Kecamatan yang sebagian wilayahnya merupakan pesisir pantai dengan panorama indah dengan hamparan pasir putihnya adalah kecamatan yang kaya akan potensi panorama alam.  Hal inilah, maka tak heran jika pemerintah Kota Mataram menjadikannya sebagai daerah yang berpotensi secara geografis alamnya selain kabupaten lain di wilayah Nusa Tenggara Barat.  Wilayah Sekotong sendiri dapat ditempuh dari Kota Mataram selama kurang lebih 2 jam dengan berkendara roda empat ke arah Timur kota.

Satu hal yang unik telah terjadi di Sekotong sekarang.  Masyarakat yang tadinya bermatapencaharian sebagai nelayan ataupun petani kebun, kini telah banyak berganti profesi sebagai pencari emas.  Hal ini diakibatkan telah ditemukan sumber emas di wilayah perbukitan Sekotong.  Tidak hanya perbukitan saja, tetapi wilayah punggungan bahkan tepian bukitpun  tak lepas dari incaran para pencari emas tersebut.  Para pencari emas yang umumnya berkelompok ini tersebar merata di sepanjang perbukitan yang ada di Sekotong.  Konon, para pencari emas ini berjumlah ribuan dan telah melakukan penggalian selama berbulan-bulan.

Lombar7

Berdasarkan info salah seorang pencari emas, dari setiap kilogram batuan yang diangkut dapat dihasilkan bergram-gram emas.  Hingga tak salah jika salah seorang pencari emas yang tadinya berprofesi sebagai pencari kayu bakar dan berkebun telah dapat merubah nasibnya menjadi seorang pengusaha emas dan dapat mencukupi kebutuhan hidupnya hingga berlebih dan mampu membeli 1 unit kendaraan roda empat.  Selain itu juga, telah menjadi rahasia umum di antara pencari emas tersebut bahwa beberapa waktu lalu seorang pencari emas mendapatkan emas hingga 20 Kg dari bongkahan batu yang dihancurkannya.

Lombar2Lombar1

Ternyata, kabar tersebut tidak hanya terdengar di wilayah Lombok saja tetapi telah menyeberang hingga di luar pulau.  Hingga akhirnya pendatang dari wilayah lain seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, dan pulau-pulau tetangga berdatangan untuk mengadu nasib di Sekotong demi impian seonggok emas yang ada di benak mereka.  Dan kini, Sekotong telah ramai dihuni oleh para pencari emas.

Adapun cara pencari emas tersebut cukup unik untuk mendapatkan emas itu sendiri.  Mereka menggali sisi punggungan bukit atau juga tepian bukit, kemudian batuan hasil penggalian dipecah kecil-kecil dan dimasukkan ke dalam karung yang kemudian diangkut menuju tempat pemrosesan lebih lanjut.  Mereka ternyata telah mengenal air raksa (Hg) yang merupakan cairan penting dalam pemisahan bijih emas dari materi lain.  Namun, mereka enggan mengutarakan bagaimana perlakuan sisa buangan yang telah tercampur dengan logam berat tersebut.

Lombar3Lombar4

Tidak jelas asal usul timbulnya transformasi yang ada di Sekotong ini.  Pemerintah daerah pun cenderung mendiamkan saja apa yang terjadi terhadap wilayahnya sekarang.  Tapi yang jelas, kondisi perbukitan di Sekotong telah menjadi seperti lubang-lubang sarang lebah yang tersebar dari perbukitan hingga sisi bawah perbukitan.  Tentang air raksa yang diikutkan dalam pencarian emas itu sendiri seperti hanya isapan jempol saja.  Sadar ataupun tidak, mereka telah bercengkrama dengan bahaya itu sendiri. Hal ini terletak pada penanganan logam berat berupa cairan yang terkenal akan bahayanya jika terlepas di alam.   Secara samar masih berbekas diingatkan kasus Minamata di Jepang dan juga kasus yang telah menjadi isu internasional di perairan Teluk Buyat.  Akankah hal ini tetap akan dilanjutkan untuk dikemudian hari?

Lombar5

kredit foto : dokumen pribadi, Elwidi, Tely D (Kementerian Kelautan dan Perikanan RI)

NTB, April, 2009

Profil “Krakatau Nature Reserve”

Sekilas Tentang Kondisi Daratan Kepulauan Krakatau

Provinsi Lampung

Oleh. fda widodo

PENDAHULUAN

Kepulauan Krakatau merupakan gugusan pulau yang  secara administratif terletak di perairan Selat Sunda pada 6006’05,8” LS dan 105025’22,3” BT dan termasuk wilayah Provinsi Lampung (± 80 Km sebelah Selatan Kota Teluk Betung) pada wilayah kerja Kabupaten Lampung Selatan (± 30 Km dari Pelabuhan Canti, Lampung Selatan sebelah Barat Daya).

Resize of PETA_KRAKATAU
Kepulauan Krakatau sendiri terbagi menjadi empat buah pulau besar yang terbentuk semenjak letusan hebat 27 Agustus 1883.  Keempat pulau tersebut adalah Pulau Rakata, Pulau Sertung, Pulau Panjang, dan Pulau Anak Krakatau (pulau gunung api).  Sebagai daerah yang berstatus sebagai kawasan Cagar Alam (Krakatau Nature Reserve) dan merupakan salah satu tempat yang menjadi daerah warisan dunia (the world heritage site) setelah Taman Nasional Bukit Barisan Selatan di wilayah Provinsi Lampung, Kepulauan Krakatau memiliki luas ± 13.605 Ha.

kr4

Sejak tahun 1919, berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Pemerintah Hindia Belanda No.83 stbl 392 tanggal 11 Juli 1919 jo No.7 stbl 392 tanggal 5 Januari 1925 telah menetapkan Pulau Rakata dan Pulau Sertung sebagai cagar alam dengan luas 2.405,10 Ha.  Kemudian pada tahun 1927 di tengah gugusan Kepulauan Krakatau, dari bekas caldera letusan tahun 1883 muncul gunung api baru yang semakin lama semakin tinggi (mancapai 300-an m) dan kemudian dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau.

Posisi Kepulauan Krakatau ini merupakan pertemuan tiga daerah “volcano fracture region”, yaitu wilayah Sumatera, Selat Sunda, dan Jawa.  Oleh karena itu, kawasan Kepulauan Krakatau memiliki keunikan tersendiri baik perkembangan geologis maupun ekologisnya.  Untuk menjadi keutuhan ekosistem di Kepulauan Krakatau untuk kepentingan konservasi sumber daya alam, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kebudayaan, maka berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.85/kpts-II/1990 tertanggal 26 Februari 1990, kawasan Kepulauan Krakatau beserta perairannya ditunjuk sebagai Cagar Alam dan Cagar Alam Laut dengan luas keseluruhan mencapai 13.735,10 Ha.

Dengan statusnya sebagai wilayah Cagar Alam, Cagar Alam Laut, dan warisan dunia, ditambah dengan wilayahnya yang relatif insular (terpisah) cukup jauh dari daratan induk Sumatera dan Jawa, maka diperlukan pengawasan yang ekstra ketat, apalagi ditambah dengan segala aktivitas vulkanik yang cukup sering terjadi di wilayah ini.  Oleh karena itu pengawasan terhadap gugusan ini dipercayakan kepada Departemen Kehutanan melalui Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam yang membawahi Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Lampung.  Sehingga segala aktivitas yang terjadi di sekitar wilayah kepulauan ini akan terpantau dan dikoordinasi oleh instansi tersebut.

kr1
Anak Krakatau yang merupakan pulau gunung api aktif sekarang ini adalah daerah yang unik dan khas.  Dikatakan unik dan khas dikarenakan gunung api yang tingginya mencapai 300-an m dpl terbentuk selama kurang lebih 125 tahun dari dasar laut dalam sumbu caldera setelah letusan Gunung Krakatau Tua (1883) yang berdiameter ± 7 km.  Selain merupakan gunung api aktif yang menjadi sorotan dunia setelah letusannya pada tanggal 27 Agustus 1883, pulau-pulau yang terbentuk setelah letusan dan mengelilingi Anak Krakatau, secara tidak langsung merupakan suatu peninggalan masa lampau yang terbentuk selama ratusan tahun.

KONDISI BIOGEOGRAFI

Gususan Krakatau memiliki keberadaan flora dan fauna yang cukup unik.  Beragam jenis vegetasi yang merupakan hutan penyusun pantai terlihat di hampir semua wilayahnya.  Pulau Rakata yang merupakan pulau terbesar dan tertinggi diantara gugusan Kepulauan Krakatau memiliki susunan vegetasi dan keberadaan fauna yang cukup kompleks.  Pada umumnya vegetasi yang mendominasi adalah jenis Cemara Laut (Casuarina casuarina)dan Ketapang (Terminalia cattapa). Sedangkan fauna yang dapat ditemukan antara lain Biawak (Varanus salvator), Tikus (Rattus sp), Ular, serangga seperti kupu-kupu (Troides helena, Pachliopta sp, dll) dan kelabang (Centipedes).  Di Pulau Rakata inilah dapat dilihat sisa tebing patahan akibat letusan Krakatau Tua 125 tahun lalu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pulau Rakata yang merupakan pulau terbesar di gugusan Kepulauan Krakatau, adalah pulau sisa hasil letusan hebat tahun 1883.  Sepintas, pulau ini menyerupai gunung dengan tebing curam yang merupakan patahan hasil bentukan dari letusan Krakatau Tua.  Pada umumnya, kondisi vegetasi penyusun di pulau ini paling kompleks di antara pulau-pulau “saudara” nya.  Vegetasi di pulau ini didominasi oleh jenis Ketapang, Cemara Laut, dan jenis vegetasi penyusun hutan Barringtonia.  Hewan yang ditemukan pun lebih kompleks, dari jenis reptilia besar seperti Biawak, Kelabang, dan Ular hingga mamalia seperti Tikus, beragam jenis serangga seperti Kupu-kupu, dan burung-burung besar seperti Elang laut.

kr7OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pulau Panjang yang memiliki daerah daratannya yang relatif terjal dan curam memiliki penyusun vegetasi daratan yang didominasi oleh Putat Laut (Barringtonia sp), Ketapang, dan Bungur (Lagerstromia sp).

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pulau Sertung yang memiliki daerah relatif landai dan daratannya  tertutupi batu apung memiliki vegetasi penyusun yang didominasi jenis Cemara Laut, Ketapang, dan kelompok Dipterocarpaceae.

kr2kr3

Sedangkan Pulau Anak Krakatau yang merupakan pulau gunung api, memiliki vegetasi penyusun yang didominasi jenis Cemara Laut dan Pandan Duri (Pandanus tectorius).  Sedangkan jenis fauna yang dapat ditemukan adalah Biawak (Varanus salvator), Tikus (Rattus rattus), beragam jenis burung air, dan serangga seperti Kelabang (Centipedes), serta kupu-kupu seperti Troides helena.

Walaupun keberadaan jenis flora dan fauna yang ditemukan di wilayah Kepulauan Krakatau ini masih belum begitu banyak, namun hal ini sangat penting hubungannya dalam bidang pendidikan dan penelitian, terutama tentang kajian asal-muasal terbentuknya suatu komunitas flora dan fauna pada suatu daerah yang pernah mengalami kehancuran parah.  Selain mempelajari tentang keberadaan flora dan fauna yang terbentuk, juga tentang terbentuknya daratan atau pulau (pediagologis) pada wilayah ini.

Berita terkait http://fdwiagungwidodo.wordpress.com/2013/01/18/melihat-krakatau-dari-dekat/ dan http://fdwiagungwidodo.wordpress.com/2013/02/03/bubbles-point-di-krakatau/

Literatur :

  • Widodo, F Dwi Agung.  2003.  Identifikasi dan Pemetaan Karang Keras (Scleractinia) menggunakan eco-sounder di Kepulauan Krakatau, Provinsi Lampung, IndonesiaSkripsi.  Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.  Universitas Lampung.
  • Berbagai sumber

Kredit Foto : dokumen pribadi & Elwidi

sumber : http://fdwiagungwidodo.gadgetblog.com/post/52652/krakatau_nature_reserve.html

Hunting for the Bomber

Perjalanan Seru ke Teluk Kiluan – Tanggamus – Lampung

Oleh.  fda widodo

Ini merupakan cerita sekitar 4 tahun lalu.

Hari itu Sabtu tanggal 6 September 2008,  tepat pukul 14.00 WIB, saya mendapat kabar jika perairan Teluk Kiluan di Teluk Semaka mendapat gangguan dari para nelayan bom dari SMS salah satu anggota Yayasan CIKAL (Mas Yeye) yang kemudian ditambah dari telepon ketuanya.  Untuk lebih memastikannya, saya kemudian berkunjung ke ‘markas’  besar Yayasan CIKAL di Kota Baru, Bandar Lampung.  Kebetulan di markas sedang mengadakan buka puasa bersama anggota lainnya.  Setelah membahas semuanya, saya dapat kepastiannya dari Ketua Yayasan, Pak Rico Stephanus.  Kata beliau, “Sudah 2 hari lalu para pengebom ikan telah memasuki perairan Daerah Perlindungan Laut di Teluk Kiluan”.  Mendengar penjelasan ini telinga entah mengapa menjadi semakin panas.  Lalu kami berembuk untuk segera mengatur rencana guna keberangkatan esok harinya (Minggu).

Sayang, hari Minggu rencana buyar, dikarenakan adanya kendala operasional dan belum lengkapnya surat pengantar dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (Baca:BKSDA) Provinsi Lampung.   Setelah seharian mengurus segala keperluan, keesokkan harinya (Senin), berangkatlah kami menuju ke Desa Kiluan Negeri, tempat terjadinya peristiwa menghebohkan tersebut.  Hari telah menjelang sore ketika kami ber-5 (saya, fajar, mas yeye, pak rico, dan kang dirham) bergerak menuju Kiluan.  Selama perjalanan, kami terhalang oleh lebatnya hujan yang mengguyur perjalanan.  Mungkin sedang sial, ketika perjalanan sudah separuh jalan, saya berbonceng dengan fajar harus tersungkur mencium aspal kasar.  Akibatnya tangan, kaki, dan dada terluka, sedangkan fajar harus menderita cukup parah pada bagian kaki dan tangan.  Namun semuanya itu bagi kami adalah suatu ujian.  Dengan menyisakan semangat, kamipun melanjutkan perjalanan sambil menorobos gerimis.

Tepat pukul 22:00 WIB, sampailah kami di Dusun Bandung Jaya (salah satu dusun di Desa Kiluan Negeri).  Dusun ini memiliki sarana akomodasi dan kebetulan kami harus menjumpai rekan wisman dari Perancis yang telah tinggal di dusun ini sejak hari Minggu sore.   Mereka Claire, Marie, Aleeq, Poulina, dkk terkejut melihat kedatangan kami di malam hari.  Setelah bercakap-cakap, mereka terkejut juga melihat berita ‘misi’ kedatangan kami di Teluk Kiluan.  Mereka sangat mendukung rencana kami yang hendak menangkap para pengebom ikan tersebut.

Selang beberapa lama, kami dan rekan-rekan wisman kembali ke pondokan masing-masing.  Malam ini juga, kami telah menyusun strategi untuk mengusir atau jika perlu menangkap para pelaku bom tersebut.  Karena badan telah lelah, tak lama kemudian kami pun tertidur.

Esok harinya cuaca di Teluk Kiluan dan sekitarnya agak mendung.  Matahari saja hampir tak dapat menembus ketebalan mendung tersebut.   Kami pun bergegas ke kediaman Kepala Desa (Baca:Lurah) Desa Kiluan Negeri, Pak Kadek untuk menyusun rencana dalam menghadapi para pengebom.  Hari ini juga kami dikejutkan berita dari rombongan wisman yang di pagi hari melakukan dolphin tour di mulut Teluk Semaka.  Mereka mengatakan jika tidak hanya pengebom ikan saja yang berkeliaran di Teluk Kiluan, tapi diperparah lagi oleh kedatangan pemburu Lumba-lumba yang menurut nelayan pemandu (Pak Solihin) mereka datang dari Labuhan, Provinsi Banten.  Selain itu juga, mereka telah mendapatkan 2 ekor Lumba-lumba yang dibawa kabur setelah rombongan dolphin tour melakukan pengejaran.  Saya sendiri hanya bisa berguman dan teringat peristiwa menghebohkan tahun lalu (2007) ketika terjadinya perburuan massal Lumba-lumba di perairan Teluk Kiluan oleh nelayan-nelayah dari Labuhan, Banten.  Saya tidak habis pikir kenapa peristiwa yang telah mendingin ini harus terulang kembali pada diri malang kawanan Lumba-lumba yang diburu untuk diambil bagian tubuh mereka dan digunakan sebagai umpan memancing hiu yang berada di sekitar perairan Teluk Kiluan.
Bomber 1

Suasana mendung di Dusun Bandung Jaya, Teluk Kiluan – Tanggamus dengan perahu ‘Jukung’ menghiasi wilayah pemukiman pesisir.

Kami pun langsung merancang strategi kembali.  Sekarang misi kami telah menjadi ganda.  Menindak tegas para pengebom ikan dan para pemburu lumba-lumba.  Dalam tujuan kami ini, kami tidak mengatasnamakan diri kami sendiri, tapi diri masyarakat Kiluan yang wilayah perairannya telah dijamah oleh tangan-tangan tidak bertanggung jawab seperti pengebom dan pemburu lumba-lumba.  Semuanya merupakan tujuan kami untuk mengembangkan kegiatan pariwisata berwawasan lingkungan (ekowisata) yang telah dirintis 3 tahun lalu.  Selama ini Yayasan CIKAL lah yang telah memberi pengertian tentang pentingnya menjaga wilayah perairan Teluk Kiluan yang merupakan wilayah berpotensi tinggi untuk dikembangkan kegiatan di bidang pariwisata yakni ekowisata.

Lalu, saya dan rekan-rekan CIKAL beserta kalangan masyarakat melakukan pertemuan guna membahas secara rinci tentang peristiwa tersebut.  Sebelumnya kami harus menyelesaikan peristiwa pemasangan bubu untuk penangkapan jenis ikan hias tempo hari lalu (dimuat di harian Lampung Post, 18  Agustus 2008) yang menyeret salah satu warga Desa Kiluan Negeri, Pak Nur Jaman.  Agak sedikit pelik memang masalah tersebut, namun setelah saya memberikan sedikit gambaran tentang dampak negatif pemasangan bubu di daerah terumbu karang tanpa mengindahkan kaidah-kaidah yang berwawasan lingkungan, warga tersebut akhirnya menyadari perbuatannya, dan untuk lain hari tidak akan melakukan kegiatan merusak di wilayahnya guna mendukung kegiatan ekosiwata Teluk Kiluan.

Tentang para pengebom dan pemburu lumba-lumba, kamipun telah bersepakat untuk melakukan pengejaran terhadapa pelaku tersebut keesokkan harinya.  Kami telah rencanakan untuk melaksanakannya di pagi dan sore hari.  Dengan dibantu petugas Syahbandar (Pak Daslan) dan Kelompok Masyarakat Pengawas (Baca:POKMASWAS) bentukkan dari DKP Lampung di Desa Kiluan, dukungan moril dari BKSDA Provinsi Lampung dan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung, kami pun merasakan aman dalam menjalankan rencana.

Seperti pagi hari sebelumnya, cuaca perairan Teluk Kiluan agak sedikit mendung.  Hari ini juga, rekan-rekan wisman menyelesaikan kunjungannya di Teluk Kiluan dan tak lama berselang merekapun berangkat dengan mobil sewa ke Bandar Lampung.  Segala sesuatu telah siap, kami ber-7 perahu ‘Jukung’ yang masing-masing 3 orang tiap perahu, tepat pukul 07.30 WIB membelah laut pagi hari ini yang agak sedikit bergelora.  Dari hasil informasi nelayan, para pengebom biasanya ‘mangkal’ dan beroperasi di wilayah Pasir Putih (salah satu tempat kunjungan wisata di Teluk Kiluan).  Sekitar 30 menit, kami telah sampai di lokasi.  Kami pun berusaha memantau tiap kapal yang pagi ini telah beroperasi di wilayah ini.  Setelah menyisir hampir 40 menit, kamipun tahu kalau telah kecolongan.  Target kami, baik pengebom dan pemburu lumba-lumba telah menghilang dari wilayah ini.

Bomber 2

Proses jalannya penyergapan kapal Trawl yang beroperasi di daerah Pasir Putih.

Walaupun kecewa, tapi kami agak diusik oleh sebuah kapal yang sedang menarik pukat mereka.  Kamipun dapat mengenali jika yang dipakai adalah mini trawl.  Segera kami melakukan penyergapan dan melakukan wawancara dengan orang-orang kapal tersebut.  Petugas kami pun menginterogasi mereka berupa kelengkapan surat-surat.  Setelah diteliti lebih jauh, ternyata mereka telah menyalahi ijin lokasi tangkap.  Tertera di surat jika mereka hanya boleh melakukan penangkapan ikan di daerah Selat Sunda, sehingga Petugas kami pun dengan segera melakukan perintah untuk membawa mereka ke Desa Kiluan Negeri untuk diproses lebih jauh.

Selang 30 menit kemudian, kami beserta rombongan dan kapal tangkapan telah memasuki Desa Kiluan dan disambut oleh masyarakat setempat.  Pak Lurah pun langsung turun tangan dan memerintahkan untuk segera membawa ABK kapal ke rumahnya.  Memang agak janggal pengakuan mereka jika selama ini mereka baru melakukan pelanggaran serupa.  Hal ini terkait dengan surat ijin yang mereka bawa, tertera di surat jika wilayah tangkap mereka adalah perairan Selat Sunda dan ditambah dengan pengakuan yang agak sedikit mengherankan,”kami baru 3 hari di wilayah perairan Teluk Semaka”.  Jelas, mereka telah berbohong, karena mereka merupakan nelayan yang cukup ‘senior’, dan alangkah janggalnya sampai tidak bisa membedakan perairan Selat Sunda dan Teluk Semaka.  Setelah kami tekan, mereka akhirnya membuka kedok sendiri dengan melakukan pengakuan bahwa adanya oknum pegawai Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung yang mendukung operasi mereka, ditambah dengan melakukan kegiatan illegal lain juga, seperti penangkapan Penyu di perairan Teluk Kiluan, pengorganisasian nelayan bom, dan kegiatan yang melanggar undang-undang lainnya.

bomber 3

Penginterogasian oknum pelanggaran ijin tangkap oleh nelayan dari Teluk Betung (Teluk Lampung) beserta contoh dokumen yang mereka bawa.

Bomber 4

Surat ijin tangkap yang mereka bawa dan tertera di surat jika wilayah tangkap mereka hanya Selat Sunda dan Samudera Indonesia (insert).

Memang agak miris ketika saya harus mendengar semua keterangan mereka.  Saya hampir tak mempercayai jika salah satu kenalan saya di Dinas Kelautan dan Perikanan Lampung yang salah satunya mereka sebutkan merupakan salah satu ‘otak’ terhadap kekacauan penangkapan ikan di wilayah Teluk Semaka dan Teluk Lampung-Selat Sunda.  Memang, selama ini saya sering mendengar kabar burung jika Pak XXX adalah orang yang selama ini memotori pergerakan nelayan bom, dengan menampung hasilnya dan menginfokan lokasi dimana saja di perairan Provinsi Lampung yang dapat dijadikan target.  Saya benar-benar hampir tak mempercayainya.  Kamipun segera mengontak BKSDA Lampung dan DKP Lampung untuk menyerahkan kasus pelanggaran ini karena merekalah empunya wilayah ini.  Segera kami beristirahat untuk melanjutkan patroli kami untuk sore harinya.  Selama beristirahat kami berdiskusi dalam kelompok kecil.  Kami menduga, jika rencana yang disusun semalam telah bocor sehingga target kami telah menghilang sebelumnya.  Kami benar-benar kecewa jika dugaan kami memang benar adanya.  Tapi kami tetap komitmen untuk melanjutkan rencana selanjutnya.

Sore tepat pukul 15.00 WIB, kami pun dengan segera meluncur kearah Cukuh Pandah (salah satu tempat tujuan wisata Teluk Kiluan) yang memiliki perairan cukup dalam.  Saya beserta rekan dalam satu jukung yang menuju Cukuh Pandan, sedang 4 jukung lainnya berbelok kea rah Pasir Putih.  Saya agak sedikit ngeri betapa ketika sampai di Cukuh Pandan, nelayan telah melakukan operasinya dan ketika mereka melihat kami, larilah mereka dengan tergesa kea rah Utara (arah Pulau Tabuan).  Kami tidak dapat berbuat banyak, kemampuan perahu kami dibandingkan mereka kalah jauh kecepatannya.  Setelah itu saya beserta rekan-rekan menyusul rombongan lainnya ke arah Pasir Putih.  40 menit kemudian, kami berpapasan dengan rombongan dari Pasir Putih yang mengarahkan perahu kembali ke Teluk Kiluan.  Saya yakin, jika sore hari inipun kami telah dikecewakan akibat target telah melarikan diri.

Sungguh merupakan pengalaman menegangkan.  Walaupun dikecewakan dengan gagalnya rencana kami, tapi sedikit banyak kami telah melakukan hal terbaik baik kelanjutan perairan ini.  Dengan adanya momen hasil tangkapan terhadap pelanggaran nelayan luar secara tidak langsung akan sedikit menggelitik pihak pemerintah provinsi dalam hal penegakkan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku sekarang.  Dan seiringnya dengan temaram senja, kamipun melangkah pulang.

bomber 5

Semoga untuk kedepannya semuanya akan menjadi lebih baik adanya.

Kredit foto : dokumen pribadi & Riko S. (Yayasan CIKAL)